Seni sebagai senjata

15 DISEMBER ― Bangun Bali subsidi petani

Kita semua makan nasi

Bukannya butuh reklamasi

Keputusan bau konspirasi

Penguasa pengusaha bagi komisi

Konservasi dikhianati

 

Bangun Bali, tolak reklamasi

Sayang Bali tolak reklamasi

Bangun Bali tolak dibohongi

rusak bumi dan anak negeri

Lagu Bali Tolak Reklamasi sepertinya sudah menjadi lagu rakyat Bali. Banyak dihafal orang Bali terutama anak mudanya. Ketika tulisan ini ditulis, penulis baru saja pulang dari menghadiri acara “Bali Tolak Reklamasi Art Event 2015” yang diadakan di Pantai Padang Galak. Letaknya tidak jauh dari Sanur yang dipenuhi pelancong luar negara.

Untuk yang belum tahu, sejak tiga tahun lalu masyarakat Bali dari pelbagai latar belakang yang terdiri dari organisasi dan individu baik mahasiswa, NGO, seniman, anak muda, pemuzik, ahli akademik dan individu lainnya telah bergabung di dalam Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) menolak projek pulau buatan atau reklamasi di Teluk Benoa.

Penolakan ini disebabkan projek ini dipercayai akan menyebabkan kehancuran kepada Bali. Bukan tanpa alasan, Teluk Benoa yang dulunya kawasan konservasi perairan kini diubah status menjadi kawasan pemanfaatan umum yang boleh direklamasi di akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kongkalikong pemerintah Indonesia, Bali dan pemodal inilah yang ditentang masyarakat Bali.

Acara ini kedua kalinya diadakan setelah ribuan hadir pada acara sama pada 2014. Tujuannya tetap sama untuk menggelorakan semangat penolakan reklamasi Teluk Benoa. Ekspresi penolakan dilakukan dengan bermacam cara dari persembahan muzik, pertunjukan seni dan teater, pameran foto, seni mural dan lainnya.

Api perlawanan yang tidak akan padam. ― Foto oleh Suartana
Api perlawanan yang tidak akan padam. ― Foto oleh Suartana

Nama-nama besar di Bali seperti Cok Sawtiri, Joni Agung, Nosstress, Pygmy Marmoset antara yang berani mengekspresikan penolakan. Tiada gentar kata mereka demi menyelamatkan Bali dari keserakahan.

Seni dan Bali tidak perlu diperkatakan. Berbondong-bondong pelancong luar negara ke Bali kerana seninya. Meski begitu banyak di kalangan penikmat seni yang menyebut bahawa seni di Bali itu sifatnya romantis dan terlihat menyembunyikan hal-hal selain keindahan.

Bali sering dibandingkan dengan Jogjakarta yang lebih berani melawan, kritis dan eksperimental. Kini tanggapan itu perlahan-lahan hilang. Bali berubah menjadi pulau perlawanan seperti kenyataan yang dikeluarkan Panitia Penataan Pantai Padang Galak, penganjur acara “Bali Tolak Reklamasi Art Event 2015.”

Pentas seni ini bukanlah pentas seni biasa yang umumnya didaulat sebagai penghibur semata, atau alat melupakan kenyataan hingga kita dibuat jinak karena terbang melayang dibuatnya. Acara spektakuler ini hadir melampui itu, sebab tak hanya mengajak khalayak untuk berpijak di tanah air tempat mereka hidup, namun juga bersemangat menjaganya dari upaya perusakan.

Event ini bukan semata pentas, namun bagian dari aksi berlawan yang ditujukan kepada para perusak Teluk Benoa. Kehadirannya ibaratnya tornado yang menakutkan bagi para rakus. Semakin ramai yang menonton maka semakin ampuh pusaran anginnya. Karena itu kekuatannya tak bisa menggantungkan diri pada pentas seninya namun pada keramaiannya. Keramaian ini sekaligus pembuktian bahwa kita bukanlah segelintir orang.

Seperti tahun lalu, ribuan membanjiri Pantai Padang Galak. Setelah memarkir motosikal, penulis diberi galakan berupa kata “Tolak Reklamasi!” oleh pecalang (polis adat) yang bertugas menjaga kelancaran acara. Pecalang yang dulunya suka “bermusuh” dengan pendatang (orang Indonesia dari luar Bali yang bekerja di Bali) kini semakin disukai kerana mulai bermusuh dengan musuh sebenar iaitu pemodal rakus.

Bali selama ini warganya tidur nyenyak meski pulaunya terus menerus dirosakkan secara langsung dan tidak langsung oleh pemodal rakus. Bali boleh diandaikan seperti Malaysia. Bersyukur dan pasrah dua kata kunci dalam kehidupan mereka. Pemodal rakus yang berpakat dengan penguasa rakus bijak mengeksploitasi Bali kerana mereka tahu orang Bali masih hidup tanpa kata meritokrasi, daya saing dan produktiviti.

Orang Bali yang hidup penuh adat dan santai perlahan-lahan akan tersingkir di pulaunya sendiri. Pembangunan yang seharusnya mengacu kepada tradisi kehidupan Bali disingkirkan. Tradisi tamak haloba dan keserakahan atas nama meritokrasi, daya saing dan produktiviti yang dibawa masuk dari luar dipaksakan untuk dianut. Bali kalah bersaing dengan pulau-pulau lain atau pembangunan (keserakahan)? Sebuah kata ancaman yang lahir dari mulut petinggi di Bali. Di belakangnya pasti pemodal rakus.

Seni tari melawan. ― Foto oleh Hadhi Kusuma
Seni tari melawan. ― Foto oleh Hadhi Kusuma

Tiga tahun terakhir ini adalah puncak kemarahan dan mual orang Bali terhadap pembangunan yang tidak berkelanjutan dan sombong terhadap tradisi Bali. JIka dahulunya mahasiswa ke depan, kali ini boleh dianggap orang seni memegang teraju. Entah mungkin kerana namanya Bali, maka harus melawan dengan seni untuk terlihat impaknya. Kenyataannya memang begitu, perlawanan dengan menggunakan seni kelihatan ampuh dan efektif dalam memberi tekanan kepada yang berwenang. Projek reklamasi sampai sekarang masih tertahan.

Gilang, salah seorang penggiat seni di Denpasar Kolektif ketika ditanya soal perbezaan di antara gerakan mahasiswa dan orang seni menjawab, “Yang membedakan kalau saya gerakan kampus segitu-gitu aja, terlalu konvensional gitu. Kadang caranya terlalu konvensional, masih perlu ada perubahan gaya. Misalnya kalau kayak mahasiswa kan terkenalnya demo, demo, demo tapi demonya modelnya begitu-begitu aja itu. Perlu ada model demo yang benar-benar berbeda gitu kan, mengeksplor cara-cara baru dalam aksi-aksi demonstrasi. Kemudian dibikin semenarik mungkin, dibikin selayaknya bagaimana kita benar-benar demonstrasi ini sebuah upaya merayakan hidup atau melawan kehidupan yang membosankan ini. Jadi jangan sampai kita melawan mencoba melawan kehidupan yang sangat membosankan tetapi menggunakan cara-cara yang juga membosankan begitu”.

Benar sekali, beberapa demo tolak reklamasi yang sempat penulis lihat berlangsung riang dan gembira diiringi persembahan muzik, pertunjukan seni tari diselang seli dengan ucapan dan teriakan. Meski musuh yang dihadapi bukan calang-calang, suara perlawanan tetap dengan nada riang tetapi tegas. Kisah pembunuhan petani yang juga aktivis penolak pelombongan pasir haram di Lumajang, Jawa Timur Salim Kancil tidak sama sekali melunturkan api perlawanan. Seperti kata Saras Dewi, Ketua Program Studi Filsafat di Universiti Indonesia, “melalui seni manusia dan alam berjumpa.”

* Ini adalah pendapat peribadi penulis dan tidak semestinya mewakili pandangan Malay Mail Online

Related Articles